//
you're reading...
ARTIKEL

“Iiih, Kamu Jahat”


Penulis   : Deddy Mulyana – Guru Besar Fikom Unpad, Anggota Dewan Redaksi HU Pikiran Rakyat

Sumber  : Pikiran Rakyat 31 Juli 2017

Untuk membaca dan mengunduhnya Klik Gambar lalu Zoom. (semoga bermanfaat)

”SALAH satu nikmat yang ada dalam surga adalah pesta seks, minta maaf. Karena inilah yang kita tahan-tahan di dunia. Kenikmatan terbesar yang diberikan Allah SWT adalah pesta seks,” begitu sepotong ceramah  Ustaz Syamsuddin Nur Makka dalam program “Islam Itu Indah” yang disiarkan Trans TV pagi hari, belum lama ini, tepatnya Sabtu 15 Juli 2017. Tak lama kemudian netizen protes. Ucapan Ustaz  Syam pun menjadi viral di media sosial.

Sadar pernyataannya dianggap vulgar, Ustaz Syam memohon maaf kepada khalayak, terutama umat Islam.

”Saya Syamsudin Nur mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dan kekhilafan yang saya lakukan,” ujar Ustaz Syam.

”Saya mengungkapkan kata-kata yang menyakiti pemirsa, menyakiti jamaah, dan juga memang tidak pantas saya katakan. Itu semua berasal dari kerendahan saya, kedangkalan ilmu saya, di mana saya juga masih belajar,” ujarnya.

Apakah ucapan Ustaz Syam salah? Dari segi isi sebenarnya tidak. Alquran secara samar dan dengan bahasa yang indah menyampaikan hal itu, seperti ayat-ayat berikut:

”Sesungguhnya Kami menciptakan bidadari-bidadari  surga itu dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan yang penuh cinta lagi sebaya umurnya” (Al-Waqiah: 35-37); ”Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (para penghuni surga yang menjadi suami-suami mereka), dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Seolah-olah bidadari-bidadari itu permata yakut dan marjan”(Ar-Rahman: 56-58); dan ”Sesungguhnya orang-orang bertakwa tinggal di tempat yang aman, yaitu di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutra yang halus dan sutra yang tebal, duduk berhadap-hadapan. Dan Kami nikahkan mereka dengan bidadari-bidadari” (Ad-Dukhan: 51-54).

Diksi dan intonasi

Pilihan kata Ustaz Syam memang cenderung kasar sehingga tidak bisa diterima sebagian masyarakat kita. Apalagi tausyiahnya disiarkan secara nasional yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat, dari anak kecil hingga orang tua, dengan latar belakang gender, pendidikan, status sosial, dan pekerjaan berlainan.

Salah satu prinsip komunikasi adalah bahwa komunikasi itu punya dimensi isi (apa yang dikatakan) dan dimensi hubungan (bagaimana menyampaikannya dan bagaimana hubungan antara orang-orang yang berkomunikasi). Ucapan yang sama bisa ditafsirkan berbeda jika disampaikan dengan cara berbeda dan atau oleh orang berbeda.

Prinsip ini berlaku terutama pada masyarakat Indonesia yang berkomunikasi konteks-tinggi, yang ditandai dengan makna pesan yang lebih cenderung tersirat ketimbang tersurat, terutama lewat bahasa nonvebal, dan sering tidak memaksudkan apa yang mereka katakan dan tidak mengatakan apa yang mereka maksudkan. Sifat ini kontras dengan sifat orang Barat, orang Amerika atau orang Jerman misalnya, yang lazim berbicara langsung, terus terang, dan apa adanya.

Dalam acara tausiah Trans TV yang menampilkan beberapa beberapa penceramah tersebut,  respons khalayak boleh jadi akan lebih lunak jika pernyataan itu disampaikan penceramah utamanya, Ustaz Nur Maulana.

Berbeda dengan gaya ceramah Ustaz Syam yang cenderung serius,  gaya ceramah Ustaz Maulana lebih cair, sering dengan pilihan kata jenaka di luar dugaan, yang berkelindan dengan intonasi dan bahasa tubuh yang “lebay,” terlepas dari apakah kita setuju dengan gaya ceramahnya atau tidak. Penggalan tausyiah Ustaz Syam  akan lebih bisa diterima jika disampaikan oleh seorang dai yang karakter aslinya memang humoris –Kang Ibing Kusumayatna (Almarhum) misalnya—apalagi jika dalam forum terbatas, seperti dalam ceramah di suatu perusahaan atau di suatu kampus.

Senada dengan itu, ucapan “Kamu jahat”  seorang perempuan dengan nada tinggi, marah, atau ketus terhadap seorang lelaki  akan dimaknai berbeda  jika kata-kata tersebut diucapkan perempuan yang sama kepada lelaki yang sama dengan nada lunak atau menggoda.

Apalagi jika ucapannya didahului “Ihh” sehingga menjadi “Ihh, kamu jahat” dan disertai cubitan lembut sang wanita terhadap pria tersebut. Mudah diduga, makna sebenarnya dari “Ihh, kamu jahat” adalah rasa gemas campur rasa senang atau rasa sayang.

Sebagaimana diasumsikan Marshall McLuhan lewat ungkapannya yang terkenal “The Medium is the Message,” dalam komunikasi massa, pesan yang sama, misalnya artikel, berita, cerita atau lagu, akan menimbulkan dampak berbeda jika salurannya pun berbeda, apakah itu surat kabar, radio, atau televisi, apalagi jika penggubah dan atau penyampainya pun berbeda.

Pertimbangan pemuatan suatu artikel  oleh redaksi surat kabar dan pengaruhnya terhadap khalayak pembaca, bukan sekadar  bergantung pada kualitas isinya tetapi juga pada siapa penulisnya. Artikel yang ditulis oleh seseorang dengan nama besar akan lebih mungkin dimuat media tersebut daripada  yang ditulis seorang pemula, meski kualitas kedua tulisannya sebanding, apalagi jika tulisan orang populer tersebut juga mendukung ideologi media bersangkutan.

Satu pelajaran penting yang dapat kita petik dari kasus Ustaz Syam, sekali lagi, adalah bahwa kita harus selalu berhati-hati dengan ucapan kita, termasuk pilihan kata kita. Sebutan berbeda untuk pekerjaan yang sama akan memberikan kesan berbeda, apakah itu tukang tik atau sekretaris; SPG alat kecantikan atau konsultan kecantikan; atau – maaf–pelacur, lonte, ublag, bondon, WTS, perempuan malam, wanita penghibur, atau PSK. Seorang  perempuan akan cenderung lebih marah jika disebut pelacur daripada disebut PSK, meski makna kedua istilah tersebut pada dasarnya sama saja.

Komunikasi bersifat irreversible (tidak dapat dikembalikan ke keadaan semula; dampaknya tak dapat ditiadakan sama sekali). Sebagaimana kata pribahasa: “To forgive but not to forget” (Kita dapat memaafkan kesalahan seseorang kepada kita, tetapi kita takkan pernah melupakannya). Maka sebagai pengguna media sosial, jangan sampai kita menyebarkan pesan yang sebenarnya merupakan kebohongan atau bahkan fitnah yang membuat hati orang tersakiti, mengalami kerugian material, atau bahkan bunuh diri, karena akibat yang ditimbukannya takkan dapat dikembalikan ke kondisi semula.

Betapapun Ustaz Syam sudah mengakui kekeliruannya dan memohon maaf kepada khalayak. Tak ada manusia yang sempurna. Tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkannya. Orang yang baik bukan orang yang tak pernah salah, melainkan orang yang melakukan kesalahan lalu bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan serupa. ***

Save

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

My ART

#saveXpalaguna

gerakan seniman & warga Bandung untuk pemanfaatan ex lahan pertokoan Palaguna menjadi RTH dan Cagar Budaya

Follow TandaMata BDG on WordPress.com

My Instagram

Terjadi error saat mengambil gambar dari Instagram. Upaya akan diulangi beberapa menit lagi.

Pengunjung Blog

  • 62,567 hit

Pengunjung Online

%d blogger menyukai ini: