//
you're reading...
ARTIKEL

Rivalitas tanpa Nalar


Penulis   : Eko Noer Kristiyanto – Bobotoh Persib, Peneliti di Kementrian Hukum dan HAM RI

Sumber  : Pikiran Rakyat 29 Juli 2017

Untuk membaca dan mengunduhnya Klik Gambar lalu Zoom. (semoga bermanfaat)

RICKO  Andrean, korban salah sasaran karena dikira Jakmania, yang dikeroyok suporter Persib di GBLA akhirnya meninggal dunia. Kepergiannya menorehkan duka bagi bobotoh, sungguh ironis, Ricko yang sejak kecil dikenal sebagai seorang bobotoh sejati justru harus meregang nyawa di tangan para pendukung klub yang dicintainya. Tewasnya Ricko adalah ekses dari rivalitas kebablasan antara pendukung Persib dan Persija, padahal setelah Rangga Cipta Nugraha tewas beberapa tahun yang lalu, kedua pihak suporter yang bertikai menyuarakan perdamaian dan bersumpah bahwa itu adalah kali terakhir nyawa melayang sia-sia akibat rivalitas suporter. Namun ternyata sumpah itu hanya di mulut, sekadar mengingatkan bahwa beberapa bulan  lalu seorang suporter Persija tewas setelah terlibat tawuran dengan kelompok yang diduga pendukung Persib di Bekasi, parahnya lagi insiden itu terjadi di luar pertandingan antara Persib dan Persija.

Beberapa bentrokan yang terjadi di luar waktu pertandingan menunjukkan bahwa rivalitas antara kedua suporter ini ngaco dan tidak sehat. Kita hanya dibuat terhenyak jika insiden berujung jatuhnya korban jiwa. Padahal kejadian bentrok antara kedua suporter rutin terjadi terutama di daerah-daerah perbatasan yang populer disebut sebagai jalur gazza oleh kedua kelompok suporter, ciri khas daerah rawan bentrok ini adalah memiliki basis suporter kedua tim. Wajar jika melihat lokasinya yang berada di perbatasan antara Jawa Barat dan DKI, sebut saja Bekasi, Depok, dan Bogor.

Rivalitas ini semakin layak mendapat label tanpa nalar dan tanpa akal sehat jika kita menelusuri fakta bahwa tak hanya kalangan suporter saja yang menjadi korban perseteruan namun juga masyarakat umum yang tak tahu apa-apa, misalnya saja aksi sweeping dan perusakan terhadap kendaraan plat B (Jakarta) yang ada di Bandung saat hari pertandingan. Oknum yang melakukan sweeping tak mempertimbangkan bahwa si pemilik kendaraan belum tentu pendukung Persija atau bisa jadi yang kendaraannya di rusak justru orang Bandung yang kebetulan memiliki kendaraan berplat nomor Jakarta. Lebih jauh lagi tindakan oknum yang mengaku suporter sepak bola ini justru mengancam sepak bola itu sendiri, kita tak akan lupa peristiwa penyerangan bus Persib oleh oknum pendukung Persija, penyerangan itu dilakukan secara brutal hingga mengancam jiwa para pemain karena kaca bus dipecahkan bahkan ada lemparan bom molotov. Penyerangan ala kriminal itu menyebabkan Persib menyelamatkan diri dan batal bertanding, ternyata sepak bola justru menjadi korban rivalitas suporter sepak bola.

 

Memelihara dendam

Memang tak semua bentrokan berakhir hilangnya nyawa, namun mereka yang pernah terlibat akan terus mendendam. Saya pernah bertemu dengan orang-orang yang badannya cacat ataupun harus menerima bekas luka jahit permanen akibat bentrokan suporter, beberapa di antaranya pernah sekarat, terakhir adalah korban Jakmania yang beruntung jiwanya masih bisa diselamatkan dari amukan bobotoh di GBLA. Melalui video yang sempat viral korban yang penuh darah dan babak belur malah melontarkan ucapan permusuhan, sementara dalam pemberitaan lain si korban mengatakan takkan pernah melupakan peristiwa yang hampir merenggut nyawanya itu. Dendam-dendam yang tersebar merata ini akan terus terjaga dan diwariskan jika perseteruan tak segera disudahi. Potensi konflik terus mengancam dan sangat menguras energi.

Momentum

Insiden yang merenggut nyawa Ricko berbeda dengan insiden-insiden sebelumnya di mana kelompok yang menjadi korban akan menyalahkan kelompok yang menjadi rival mereka, suara selalu terbelah antara mereka yang menyuarakan perdamaian dan mereka yang mendendam dan menyalahkan. Namun kali ini suara tak terbelah, karena memang kematian Ricko bukan disebabkan oleh pihak pendukung Persija, sehingga tak ada yang menyuarakan balas dendam ataupun menyalahkan Jakmania.

Jika kita telusuri pemberitaan media massa dan isu di media sosial maka semua menginginkan perdamaian, bobotoh ingin Ricko adalah tumbal terakhir dari rivalitas tanpa nalar ini. Kubu Jakmania pun demikian, terlebih Ricko menjadi korban justru karena dirinya melindungi Jakmania yang menyusup ke GBLA.

Langkah menuju perdamaian pun semakin nyata karena beberapa waktu yang lalu kubu Jakmania menyatakan keinginan untuk menyudahi permusuhan ini, dan orang yang menyerukan perdamaian pun bukan orang sembarangan bagi para pendukung persija, dia adalah Bung Fery Indrasyarief Ketua Umum Jakmania yang baru saja memenangi pemilihan ketum Jakmania secara demokratis. Tanpa embel-embel ketua umum pun Bung Fery dikenal memiliki pengaruh dan diterima secara sosiologis oleh hampir seluruh Jakmania. Sementara bobotoh memerlukan seorang figur yang mampu diterima oleh segala segmen, pilihan paling rasional adalah berharap kepada Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, karena selain kewibawannya sebagai wali kota, Kang Emil pun dikenal sebagai pendukung Persib dan kebobotohannya tidaklah dibuat-buat. Bobotoh dan Jakmania, selamat berdamai (dengan serius), jangan biarkan kepergian Ricko menjadi sia-sia.***

Save

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

My ART

#saveXpalaguna

gerakan seniman & warga Bandung untuk pemanfaatan ex lahan pertokoan Palaguna menjadi RTH dan Cagar Budaya

Follow TandaMata BDG on WordPress.com

My Instagram

Terjadi error saat mengambil gambar dari Instagram. Upaya akan diulangi beberapa menit lagi.

Pengunjung Blog

  • 62,567 hit

Pengunjung Online

%d blogger menyukai ini: