//
you're reading...
ARTIKEL

Ziarah ke Masa Kecil


Penulis   : Deddy Mulyana – Guru Besar Fikom Unpad, Anggota Dewan Redaksi PR

Sumber  : Pikiran Rakyat 12 Juni 2017

Untuk membaca dan mengunduh Klipping  Klik Gambar lalu Zoom. (semoga bermanfaat)

Setiap Ramadan datang

angan pun melayang

ke masa kecil yang riang

bersama keluarga tersayang

Setiap Ramadan datang

usia semakin matang

meski amal masih belang

dan centang perenang

Duhai Ramadan, Sayang

aku rindu pulang

ke masa kecil yang riang

dan kini t’lah hilang

 

ITULAH puisi yang saya gubah khusus untuk Takrif kali ini. Sungguh, setiap Ramadan tiba, saya teringat akan masa kecil yang telah jauh meninggalkan saya. Seorang sosiolog benar ketika ia berujar bahwa saat usia makin tua, waktu terasa makin cepat berlalu.

Dekade 1960-an, saya dan seorang adik lelaki –kini dosen suatu universitas swasta di Bandung– lebih sering tinggal bersama kakek dan nenek di kampung, sedikit di luar Bandung. Saat libur SD kami kadang pulang ke rumah orangtua di kota. Mereka berbisnis dan tinggal bersama adik-adik kami lainnya. Sejak masuk SMP, saya sepenuhnya tinggal bersama ayah dan ibu. Saat Ramadan, tak jarang saya ngabuburit ke Alun-Alun Bandung tempat bergunung petasan berbagai ukuran dijual. Dini hari saya membantu ibu menyiapkan makan, terutama dengan mengipasi nasi panas di boboko (bakul) dengan hihid (kipas) –keduanya terbuat dari bambu– untuk mendinginkannya. Menjelang Lebaran saya sibuk membantu ibu membuat kue lebaran. Tugas saya mengocok telor ayam atau telor bebek dengan gula putih. Berikutnya ibu mencampurnya dengan tepung terigu dan memasukkan adonan ke dalam oven.

Pengalaman di kampung membekas dalam. Setiap pagi, terutama saat kemarau, saya dan adik menyiram tanaman di kebun dan seputar rumah. Selain sebagai petani, kakek seorang imam masjid dan tokoh agama di kampung. Ia kerap mengajak kami salat berjamaah di masjid, terutama Magrib dan Subuh. Usai salat Subuh ia membimbing kami membaca Quran dengan penerangan cempor. Sekitar pukul dua siang kami mengaji di madsarah hingga Asar. Antara Magrib hingga Isya, lagi kami mengaji di madrasah yang sama, dengan penerangan petromaks. Listrik memang belum masuk kampung kami saat itu.

Pada masa kecil itulah saya mengenal dan terlibat dalam sebagian permainan yang populer di kalangan anak-anak. Kami bermain layang-layang, keléréng, bandring, yoyo, panggal (gasing), galah, gatrik, kasti, ucing sumput (petak umpet), perang gobang, sumpit-sumpitan, sorodot gaplok, dam-daman, panco, pérépét jéngkol, oray-orayan, paciwit-ciwit lutung,dan yang lebih lazim dilakukan anak perempuan, seperti slépdur, sapintrong, sondah, béklen, dan congklak. Membuat patung kecil dari tanah liat, bedil-bedilan dari pelepah pisang, mobil-mobilan dari kaleng susu dan karet sendal jepit, pedati dari kulit jeruk bali, dan kolécér (kincir) dari daun kelapa atau kertas, tak terpisahkan dari masa kecil. Pertandingan layang-layang berlangsung antarkampung saat padi menguning. Adrenalin mengalir deras saat saya berburu layang-layang dengan merambah tanaman padi yang tinggi, yang sebagiannya memiliki bebegig untuk menakut-nakuti burung.

Musim hujan kami sering mandi di sungai atau di kolam. Jika airnya melimpah, kami memeluk gedebog (batang) pisang yang mengambang agar kami tak tenggelam. Sungai, kolam, dan rawa penuh dengan lele, bogo (gabus), betrik, sepat, beunteur dan uceng. Lele dan uceng paling maknyus, apalagi jika dipepes bumbu kuning. Kami peroleh ikan-ikan itu dengan ngecrik (jaring yang dilempar), nyirib (menjaring di tempat), nyair (menyaring dengan saringan terbuat dari bambu), nyusug (menangkap dengan kurungan dari bambu), dengan bubu (perangkap terbuat dari bambu), ngagogo (menangkap dengan tangan kosong), nawuan (mengeringkan bagian sungai atau rawa dengan terlebih dulu membendungnya dengan tanah), dan ngabedahkeun (mengeringkan kolam). Kadang kami membuat kombongan (sarang ikan) di sungai yang kami biarkan beberapa waktu. Dengan menutup pintu masuknya, kombongan itu lalu kami keringkan untuk menangkap ikan yang masuk. Akar-akar bambu biasanya kami masukkan ke dalam kombongan itu agar lebih banyak ikan betah di sana.Terkadang kami juga negér (membiarkan alat pancing semalaman di sungai), mosong (menaruh perangkap belut di sawah), untuk diambil keesokan harinya, ngurek (memancing belut di lubangnya). Menjaring burung di sawah dan mengetapel burung di pohon kadang kami lakukan, meski sering gagal. Musim kemarau kami sering mencari jengkerik, untuk kami adu. Agar agresif dan berani, serangga itu digintir (diputar dengan sehelai rambut) dan digéré (diadukan dengan kepala jengkerik mati yang ditusuk sebatang lidi).

Ada kalanya kami mencari undur-undur di pinggir rumah orang. Kami juga kerap memanjat pohon jambu, sirsak, dan kersen untuk memetik buahnya yang matang. Mengambil telor bebek dan telor ayam di kolong leuit (gudang padi), tempat unggas itu bermalam, merupakan perjuangan tersendiri karena bau kolong yang menyengat. Menggembalakan kambing dan kerbau milik kakek saat senggang sungguh menyenangkan.

Saat Ramadan, terutama menjelang Lebaran, kami bermain lodong, semacam meriam terbuat dari bambu gombong, berbahan karbit yang disulut api sebagai peledaknya. Suaranya menggelegar. Bum. Bum. Bum.

Duh, indahnya masa kecil.

**

KINI permainan masa kecil itu tinggal kenangan. Nyaris semuanya telah sirna dimakan waktu. Saya tak pernah melihat anak-anak kecil di tempat lahir saya –yang kini masuk kotamadya– melakukannya. Saya ragu apakah anak-anak sekarang bahagia dengan aktivitas mereka yang sebagian besar di sekitar mal, televisi, video game, dan gawai.

Lewat permainan tradisional anak-anak dulu belajar mengembangkan imajinasi, kreativitas, dan kerjasama, untuk menjadi makhluk sosial. Apakah anak-anak sekarang sesosial kami dulu? Entahlah. Jauh dalam hati, saya yakin bahwa kita akan bahagia dan berjiwa sosial dalam arti sesungguhnya jika kita lebih banyak bergaul langsung dengan manusia alih-alih lewat media sosial, termasuk Facebook, Twitter, Instagram, atau WhatsApp.

Saya lihat kini banyak anak-anak dan remaja, bahkan juga orang dewasa, yang memelototi gawai saat mereka mengendarai mobil dan motor di jalan. Di masjid, sesaat setelah salat fardu, saat menunggu iqamat, saat ceramah Tarawih, dan bahkan saat khotbah Jumat, ada saja orang yang melihat-lihat isi telefon pintar. Jika dulu TV pernah menjadi ”Tuhan kedua”, jangan-jangan peran itu kini telah digantikan gawai. Dalam buku Kuliah Tauhid (2002) Muhammad Imaduddin Abdulrahim mendefinisikan tuhan (ilah) sebagai sesuatu yang dipentingkan oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia rela dikuasai olehnya.

Saatnya bagi para orangtua untuk memberi teladan dan lebih ketat mengawasi anak-anak mereka dalam menggunakan gawai. Mereka seyogianya lebih banyak melibatkan anak-anak dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk di alam bebas. Jika tidak, dikhawatirkan anak-anak ini akan menjadi ”robot” atau ”zombie.”

Mau?***

Save

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

My ART

#saveXpalaguna

gerakan seniman & warga Bandung untuk pemanfaatan ex lahan pertokoan Palaguna menjadi RTH dan Cagar Budaya

Follow TandaMata BDG on WordPress.com

My Instagram

Terjadi error saat mengambil gambar dari Instagram. Upaya akan diulangi beberapa menit lagi.

Pengunjung Blog

  • 62,490 hit

Pengunjung Online

%d blogger menyukai ini: