//
you're reading...
ARTIKEL

Menyoal Pancasila


Penulis   : Reiza D Dienaputra – Guru Besar Ilmu Sejarah FIB Unpad

Sumber  : Pikiran Rakyat 6 Juni 2017

Untuk membaca dan mengunduh Klipping Klik Gambar lalu Zoom. (semoga bermanfaat)

KEPUTUSAN  pemerintah untuk menjadikan tanggal 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila merupakan langkah tepat yang perlu didukung untuk mengembalikan memori kolektif bangsa yang di berbagai tingkatan cenderung tengah  mengalami amnesia sejarah. Amnesia sejarah dengan indikasi utama hilangnya kesadaran akan identitas diri dan lingkungan hidupnya, khususnya lingkungan hidup di masa lalu, sering kali menjadi daya mati yang memorakporandakan warisan sejarah yang dengan susah payah dibangun para pejuang dan pendiri bangsa ini. Namun demikian, penting untuk diperhatikan bahwa pembangunan dan penguatan kembali memori kolektif bangsa ini hendaknya dilakukan secara jernih dan objektif sehingga tidak mengakibatkan terjadinya pencemaran di dalamnya.

 

Fakta historis

Berbicara tentang Pancasila tentunya tidak bisa dilepaskan dari momentum sejarah tentang pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) pada 29 April 1945, yang dipimpin oleh Radjiman Wediodiningrat. Sesuai dengan fungsinya, kurang lebih satu bulan setelah didirikan, para anggota BPUPKI mengadakan kegiatan persidangan. Dari 46 pembicara yang tampil dalam masa persidangan pada  tanggal 28 Mei hingga 1 Juni, dapat dikatakan hanya Soekarno yang secara eksplisit mengungkapkan rumusan tentang dasar negara. Lima prinsip atau dasar negara yang dikemukakan Soekarno adalah Kebangsaan Indonesia, internasionalisasi atau perikemanusiaan, Mufakat atau demokrasi, Kesejahteraan sosial, dan Ketuhanan atau bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada bagian lain pidatonya yang seringkali memperoleh tepuk tangan riuh dari para anggota BPUPKI, Soekarno juga mengatakan, “Saudara-saudara!”Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan … saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa-namanya ialah Panca Sila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi” (Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1995:81).

Pembicaraan selanjutnya tentang dasar negara berlangsung tanggal 22 Juni 1945, oleh Panitia Sembilan yang dipimpin oleh Soekarno. Adapun rumusan dasar negara produk Panitia Sembilan, sebagaimana tercantum dalam Piagam Jakarta ini terdiri dari Ketuhanan; dengan kewajiban menjalankan syare’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya; Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selepas itu, dalam sidang yang berlangsung tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengesahkan Pembukaan Undang Undang Dasar 1945. Di dalam pembukaan inilah rumusan Pancasila memperoleh bentuknya yang paling akhir, terdiri dari Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan yang adil dan beradab; Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan Pancasila sebagaimana ditetapkan sidang PPKI secara eksplisit tampak hampir sama dan sebangun  dengan rumusan Pancasila yang dihasilkan Panitia Sembilan tanggal 22 Juni 1945. Akan tetapi bila diamati dengan saksama terdapat perbedaan mendasar pada sila pertama, sekaligus perbedaan yang menjadi jembatan pemersatu Indonesia yang beragam. Rumusan sila pertama, “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syare’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

 

Revitalisasi

Berangkat dari fakta historis yang terang benderang tersebut, jelas bahwa berbicara tentang hari lahir Pancasila maka pada dasarnya terdapat dua pengertian mendasar. Pertama, hari lahir Pancasila sebagai sebuah istilah atau nama dasar negara, yakni tanggal 1 Juni 1945. Kedua, hari lahir Pancasila sebagai dasar negara, yakni tanggal 18 Agustus 1945. Dengan demikian, kalaulah kemudian pemerintah menetapkan  1 Juni 1945 sebagai hari lahir Pancasila  tentunya sah-sah saja  karena realitasnya pada 1 Juni 1945  itulah kata Pancasila untuk pertama kalinya disuarakan Soekarno. Akan tetapi kalau kemudian memaknai 1 Juni 1945 sekaligus sebagai hari lahir Pancasila sebagai dasar negara tentu itu perlu dihindari karena akan memberi kontribusi negatif bagi bangsa yang tengah mengalami amnesia sejarah ini.

Di luar itu, tentunya peringatan hari lahir Pancasila hendaknya tidak berkutat pada sekadar upacara ritual atau seremonial mengenang kelahiran Pancasila, akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana mengembalikan dan menguatkan kembali memori kolektif bangsa ini. Setidaknya ada dua hal penting yang perlu dikuatkan kembali sebagai memori kolektif bangsa tentang kelahiran Pancasila sebagai dasar negara. Pertama, kelahiran Pancasila sebagai dasar negara merupakan fakta tak terbantahkan tentang kesadaran sekaligus toleransi umat Islam Indonesia, khususnya para ulama,  tentang nilai-nilai keberagaman. Betapa tidak, penghilangan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syare’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam sila pertama hanya mungkin terjadi bila dalam jiwa umat Islam Indonesia bersemayam kesadaran tentang Indonesia yang serba beragam serta tentang masa depan kemerdekaan Indonesia yang hanya akan langgeng bila hal-hal yang mengakibatkan keterbelahan dihilangkan. Realitas kesejarahan tentang pengorbanan umat Islam ini sekaligus menjadi fakta sejarah penting tentang peran umat Islam Indonesia dalam memperjuangkan dan menegakkan kemerdekaan. Oleh karenanya, terlalu gegabah bila akhir-akhir ini ada yang beranggapan bila umat Islam Indonesia, termasuk para ulamanya,  adalah umat yang anti keberagaman, intoleransi atau bahkan lebih dari itu tidak cinta NKRI.

Kedua, peringatan hari lahir Pancasila pada akhirnya diharapkan pula dapat memberikan fokus pada penguatan kembali  memori kolektif bangsa tentang keberagaman Indonesia serta pentingnya keberagaman dijadikan daya hidup bersama. Sila demi sila Pancasila secara eksplisit jelas memperlihatakan sebagai sila-sila yang memperlihatkan tentang Indonesia yang beragam. Nilai-nilai tersebut hendaknya disadari selalu oleh seluruh elemen bangsa ini, dari Sabang sampai Merauke, dari rakyat biasa hingga pemimpin tertinggi. Fakta sejarah tentang mudahnya Indonesia diluluhlantakan manakala keberagaman menjadi daya mati yang dimainkan kekuatan asing semasa sebelum kemerdekaan tentu sudah lebih dari cukup untuk dijadikan bahan pembelajaran. Oleh karena itu, layaklah seluruh anak bangsa ini berjalan beriringan untuk menjadikan hari lahir Pancasila bukan sebagai gerakan wacana semata, tetapi harus menjadi gerakan nyata yang mencerahkan dan  dapat menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai  jiwa, pandangan hidup,  dan pola  tingkah laku seluruh anak bangsa ini. “Kita Indonesia, Kita Pancasila, Kita Cinta NKRI dan Kita Siap Mengamalkan nilai nilai Pancasila dalam kehidupan sehari hari”.***

Save

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

My ART

#saveXpalaguna

gerakan seniman & warga Bandung untuk pemanfaatan ex lahan pertokoan Palaguna menjadi RTH dan Cagar Budaya

Follow TandaMata BDG on WordPress.com

My Instagram

Terjadi error saat mengambil gambar dari Instagram. Upaya akan diulangi beberapa menit lagi.

Pengunjung Blog

  • 62,490 hit

Pengunjung Online

%d blogger menyukai ini: