//
you're reading...
ARTIKEL

“Simulacra” Pilgub Jabar


Penulis   : Suwandi Sumartias – Dosen Komunikasi Politik Fikom Unpad

Sumber  : Pikiran Rakyat 22 Mei 2017

Untuk membaca dan mengunduhnya Klik Gambar lalu Zoom. (semoga bermanfaat)

PENTAS  politik pilgub Jabar 2018 seyogianya terus diwacanakan dan dikawal oleh para pengelola media massa dan atau media virtual. Demikian halnya, ruang-ruang diskusi  sosial dan kampus mesti mendapat penguatan dan digelorakan.

Jika tidak, akan muncul tokoh-tokoh yang tak lagi memiliki wibawa dan komitmen dalam pembangunan  Jawa Barat. Alih-alih minim pengetahuan dan kemampuan sebagai calon pimpinan warga Jabar, kecuali di kalangan terbatas saja. Itupun karena popularitas dan rekayasa media partisan atau relawan, bloger, yang secara sengaja (baca: dibayar)  untuk mengampanyekan calonnya.

 

Pentas simulacra

Dan dalam situasi ini, parpol seakan menjadi alat utama dan penentu, siapa yang layak menjadi gubernur. Ironisnya, parpol masih jauh dari nilai-nilai kepercayaan dan aspirasi warga, karena ulah para elite parpol yang masih dipenuhi aura politik uang, koruptif dan haus akan kekuasaan.

Praktik demokrasi  masih kental dengan rekayasa simbol dan pencitraan palsu semata. Dan menurut  Jean Baudrillard (1976)  disebut dengan panggung simulacra, era di mana manusia masuk dalam praktik imitasi dan kepalsuan,  sarat dengan ekstasi komunikasi yang hedonis dan komodifikasi. Politik jauh dari makna sesungguhnya, tercerabut dari  orisinalitas dan identitas manusia. Manusia abad kontemporer hidup dalam dunia simulacra (gambar, citra atau penanda suatu peristiwa yang telah menggantikan pengalaman).

Manusia (warga Jabar) tak lagi mau belajar dari pengalaman masa lalu, khususnya pengalaman dalam menentukan pilihan pimpinan yang terbaik menurut kemampuan dan kapasitasnya. Selain minim informasi, juga karena pengaruh media komunikasi (era virtual) telah melakukan berbagai upaya rekayasa tanda dan simbol  calon-calon gubernur yang seolah terbaik versi kelompoknya. Kebuntuan informasi dalam masyarakat (warga Jabar) terus berulang.

Menurut Piliang (2011), iklim demokrasi di atas tubuh bangsa akhir-akhir ini menampakkan watak anomali, ditunjukkan oleh sikap, perilaku, dan tindakan para elite politik yang kian kehilangan makna sejati sebagai manusia berkualitas lahir dan batin, kecuali ideologi materialistis. Mesin demokrasi yang mestinya dibangun oleh kekuatan pikiran, perasaan, pengetahuan, dan intelektualitas, kini dikuasai oleh mesin- mesin citra, tontonan, dan teater politik di atas panggung ”masyarakat tontonan politik” (society of political spectacle) yang menyuguhkan aneka artifisialitas, banalitas, dan distorsi politik.

 

Mesin komunikasi

Mesin komunikasi politik yang diharapkan dapat mendiseminasi ide, pengetahuan, dan gagasan cerdas politik kini menjadi ajang retorika, parodi, dan reduksi virtual politik. Akibatnya, proses demokratisasi tak mampu membangun arsitektur masyarakat politik yang cerdas, etis, dan estetis karena pendidikan warga (civic education) kini telah diambil alih oleh”penghiburan warga” (civic entertainment).

Pilar-pilar penyangga arsitektur demokrasi kini tampak kian keropos bukan karena kekuatan eksternal, tetapi oleh parasit internal elite politik. Simbiosis antara mesin politik dan mesin media yang semula diharapkan dapat memperkokoh konstruksi bangunan demokrasi, kini justru menjadi virus perusak nilai-nilai luhur demokrasi itu sendiri. Robert M Entman di dalam Democracy Without Citizens (1989), kebebasan media mestinya mendorong demokrasi dengan menstimulasi kepentingan politik warga melalui suplai informasi cerdas dan kritis untuk menjaga akuntabilitas pemerintah. Akan tetapi, selera rendah politik (political kitsch) yang terbangun dalam simbiosis elite politik dan media justru menggiring wacana politik  yang irasional dan imoralitas.

Dalam era simulacra, iklan politik telah mengambil alih tanggung jawab moral atau moralitas puritan masyarakat dan menggantikannya dengan moralitas hedonistik yang mengacu melulu pada kesenangan. Parahnya lagi, hedonistik itu telah dijadikan sebagai barometer dari hyper-civilization (peradaban hiper). Kebebasan dan kemerdekaan berubah wajah menjadi sistem komoditas politik. Citra para politisi berubah-ubah wajah sesuai konteks dan kepentingannya. Citra politisi bisa menjadi  representasi dari realitas; menutupi realitas dan sekaligus menggantikan realitas. Komunikasi politik para elite partai ibarat rangkaian produksi dan kehidupan sosial terjajah oleh komoditas ekonomi dan kekuasaan.

Jika meminjam pemikiran Vincent Mosco dalam “The Political Economy of Communication (2009), praksis media massa atau media virtual memiliki rahasia yang mesti digugat, antara lain elemen komodifikasi, spasialisasi, dan strukturasi. Komodifikasi sebagai upaya yang dilakukan  media massa dalam mengubah segalanya agar dapat dijadikan sebagai alat penghasil keuntungan. Spasialisasi sebagai upaya yang dilakukan pemilik media untuk mengatasi jarak dan waktu, dengan pemanfaatan teknologi, agar dapat memaksimalkan kerja dalam rangka peningkatan keuntungan. Dan strukturisasi sebagai kelanjutan bentuk vertical integration pada spasialisasi, yang saling mempengaruhi dalam kegiatan produksi di media massa akibat perbedaan akses antara pekerja dan pemilik modal, sehingga menentukan kuasa siapa yang berpengaruh pada saat bekerja. Maka tidak heran, banyak sekali menjelang pilgub atau pilkada, media massa menjadi media partisan dan atau agen politik kelompok tertentu sesuai kepentingan politiknya. Sayangnya, warga Jabar belum memiliki pemahaman dan kesadaran penuh tentang praktik-praktik dominasi dan hegemoni media dan politik.

Situasi praksis demokrasi  masih diwarnai dengan  jargon-jargon yang penuh rekayasa, khalayalan dan kepalsuan oleh para elite politik, pemodal dan mendapat penguatan birokrat. Di sisi lain, warga Jabar tak lagi memiliki informasi yang memadai dan valid tentang para calon gubernur Jabar, maka perubahan yang signifikan dan makna politik yang sesungguhnya (membangun civil society yang sejahtera dan damai), semakin jauh dari kenyaataan dan harapan. Alih-alih tokoh-tokoh informal di Jabar (di luar kekuasaan dan partai), tak lagi dibuat penting pengaruhnya. Karena sebagian dari mereka adalah para pemain di dalamnya, tak ada lagi diskursus politik yang kritis dan memadai sebagai upaya menyaring calon gubernur yang terbaik dan mumpuni. Janji dan atau jargon politik tak lebih hanya rangkaian pencitraan semata yang sarat  aura kepalsuan. Yang abadi dan eksis adalah kepentingan semata dari kelompok penguasa. ***

Save

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

My ART

#saveXpalaguna

gerakan seniman & warga Bandung untuk pemanfaatan ex lahan pertokoan Palaguna menjadi RTH dan Cagar Budaya

Follow TandaMata BDG on WordPress.com

My Instagram

Usai Pengajian di Percikan Iman - Mesjid Telkom University
#menggambar pake #telunjuk yang ketiga di HP ini masih jauh dari sempurna, tapi lumayan lah untuk melancarkan.
#art #drawing #sketch #sketchbook #sketchwalker #sketchurban #telkomuniversity #bandung Kalau sebelumnya "menggambar pake telunjuk" di HP karena tak bawa alat+media gambar, kali ini karena situasional.
Selalu ada saja saat-saat dimana "passion" menggambar lagi tinggi tapi situasi tidak memungkinkan. Di dalam pesawat terbang misalnya. 
Dalam situasi seperti ini "ngagambar ku curuk" jadi sangat masuk akal. Walau belum belajar tekniknya yg bener,, baru pake ilmu "kumaha aing we", menggambar dengan telunjuk mengasyikkan juga. Sepertinya ke depan akan saya jadikan alternatif (kaduhung teu ti baheula nyobaan na)
#art #drawing #sketchbook #sketch #sketchwalk #airplane #nam #surabaya Ngudud Dji Sam Soe segese gini kapan habisnya ya? 
#cigarette #234 #sampoerna #museum #houseofsampoerna #surabaya Hotel Geulis Dago Bandung
#art #drawing #painting #watercolor #drawingpen #urbansketch #hotel #dago #bandung #sketch #sketchwalker #hotelgeulisdago Kembali ke Khitah
Saat pulang ke Bandung  saya kangen nyeket di Bandung yg sejuk.  Alhamdulillah beberapa teman di Minggu tadi pada ngumpul di Car Free Day DAGO.  Jadi deh DIGODA DAGO
#art #drawing #sketch #sketchwalker #cfd #dago #bandung #seniman Utk pertamakalinya menggambar pake TELUNJUK

Terkadang (bahkan sering) yang dibutuhkan cuma ngopi alakadarnya. Cukup kopi seduh.
Di Bratang Jaya Surabaya ada sebuah warung kopi seduh. Tempatnya luas, 2 lantai lagi Buka 24 Jam. Harganya cuma 3000 perak. Menarik,, makanya penuh banget.
Saat ngopi nyesel juga nggak bawa Sketchbook. Cuma ingat ada aplikasi Autodesk Sketchbook di HP. Ini pertamakalinya menggambar pake telunjuk. Rada susah sih dan untuk hasil seperti ini rasanya kelamaan waktu yg dihabiskan, Tapi lumayanlah, dan asyik juga lah
#art #drawing #sketchbook  #sketch #sketchwalker #warkop #warungkopi #murah ' Gazeebo dekat Rektorat Kampus ITS
#art #drawing #watercolor #gazeebo #its #rektorat #sketch #sketchwalker Sambl menunggu anak herregistrasi di Kampus ITS Surabaya
#art #drawing #sketch #sketchwalker #Its #surabaya #herregistrasi Ngopi
#coffetofee #post #coffee #surabaya #myson Alih-alih merasa sendirian di Surabaya, eh ada orang Sekeloa alumnus  Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad  Angkatan 1990 tinggal disana dan putranya sama-sama diterima satu fakultas dgn  Elang. Setelah 22 tahun tak bertemu, Rainy Safitri Inge sepertinya tak banyak berubah. 
Terinakasih banyak atas jamuan makan siangnya, info tentang kost, kunjungan ke Museum Sampoerna dan bantuan kemudahan transportasi selama di Surabaya. Salam buat keluarga. Semoga segala kebaikan Inge & keluarga berbalas berkah berlimpah.
#its #surabaya #alumni #fikomunpad #culinary Tiba ....
#its #surabaya ##arsitektur Seneng rasanya lihat anak-anak kompak saling jaga saling bina #menuju_ITS #raihmimpi #arsitektur #its SIDAK ke Lapak Seniman CFD Dago, sepertinya formasi belum lengkap. Masih berlibur? 
#art #artist #painter #masters #cfd #dago #bandung Silaturahmi ke senior
#idulfitri #halalbihalal #maestro #painter #art #artist Kuda Liar tapi Soleh
#art #drawing #watercolor #spidol #horse #white #sketch #pray Beberes halaman belakang #menunggutukang #ngaduk #tembok #teras #halamanrumah #halamanbelakangrumah #kawalu #tasikmalaya Perang Gobang
#art #drawing #watercolor #spidol #game #traditional Sawer Receh
#lebaran #idulfitri #mudik #cicariang #kawalu #tasikmalaya Puntennya palawargi sadaya ditampina lesehan, maklum teu acan gaduh parabotan
#mudik #cicariang #kawalu #tasikmalaya #idulfitri #lebaran Selamat Hari Raya Idul Fitri. Kami sekeluarga Mohon Maaf atas segala kesalahan, terasa dan atau tidak sengaja.. Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadan diterima Allah SWT. Amin..
#idulfitri #lebaran

Pengunjung Blog

  • 53,519 hit

Pengunjung Online

%d blogger menyukai ini: