//
you're reading...
ARTIKEL

Radikalisme Agama & Politik


Penulis   : Dede Mariana – Guru Besar Ilmu Pemerintahan, Kepala Departemen Ilmu Politik Unpad dan Ketua HIPIIS Jabar

Sumber  : Pikiran Rakyat 12 Mei 2017

Untuk membaca dan mengunduh Klipping  Klik Gambar lalu Zoom. (semoga bermanfaat)

SECARA  teoritis, radikalisme tidak identik dengan kekerasan, termasuk penyandingannya dengan kelompok agama tertentu. Fenomena radikalisme agama bukanlah fenomena yang lahir saat ini saja. Radikalisme agama telah lahir sejak abad 16-19 M, di mana perebutan hegemoni agama antara Islam versus Kristen sangat kentara di sana. Fenomena radikalisme agama juga bukan hanya milik Islam, maupun Kristen, tetapi juga dalam Hindu dan Yahudi, demikian Karen Amstrong, dalam The Battle for God, 2000.

Kaum radikal dalam beragama bisa jadi memang memiliki pandangan hidupnya sendiri, yang barangkali berbeda dengan lainnya. Dengan cara pandang sendiri, mereka tidak jarang melihat gejala sosial yang terjadi sesuai dengan cara pandangnya, jika tidak sesuai maka akan sangat mungkin ditolak, bahkan dilawan. Perlawanan inilah yang kadang menjadi bentuk riil dari kaum radikal. Kaum radikal melawan siapa saja yang dianggap berada di luar, atau berbeda dengan pandangan hidupnya. Pandangan dan gaya hidup yang tidak sama dengan kelompoknya akan dengan mudah dianggap sebagai “musuh” paling nyata, sehingga tidak segan-segan untuk dimusnahkan. Dari sini kemudian berkembanglah cara pandang yang sangat intoleran, tertutup dan memutlakkan apa yang menjadi pandangannya.

Klaim akan kebenaran akhirnya tidak bisa dipisahkan dari kaum radikal. Munculnya klaim ini di samping karena cara pandang kaum radikal yang berbeda dengan kaum nonradikal, juga disebabkan karena cara beragama yang sangat tekstual-skriptural. Cara pandang  sangat menentukan bagaimana kaum radikal bersikap dan bertindak dalam beragama. Kaum radikal beranggapan bahwa keberagamaan yang paling benar dan sempurna adalah yang sesuai dengan keberagamaan tekstual pada zaman para nabi dan rasul dulu kala, bukan melakukan kontekstualisasi. Kontekstualisasi agama dipandang sebagai rekayasa manusia yang tidak lagi menghargai keagungan Tuhan dan para nabi yang telah diturunkan ke muka bumi. Kontekstualisasi inilah yang paling ditentang oleh kaum radikal. Mereka berpedoman hendak mengembalikan ajaran agama ke ajaran zaman para nabi dan rasul.

Selain disebabkan karena adanya cara pandang yang tekstual-skriptual seperti itu, radikalisme agama diduga tumbuh subur karena adanya proses peminggiran yang berjalan secara sistematis oleh sebuah kekuasaan politik tertentu, maupun rezim agama tertentu. Proses peminggiran yang sistematis jelas menempatkan sebuah kelompok tertentu tidak mendapatkan akses atas kekuasaan politik, maupun rezim agama, sehingga menjadikan marjinalnya kelompok tersebut.

 

Marjinalisasi

Marjinalisasi menjadi alasan sosial tersendiri atas munculnya radikalisme agama yang belakangan marak di negeri-negeri miskin dan negeri-negeri yang terjerat utang seperti Indonesia. Radikalisme agama muncul karena mereka merasa tidak mendapatkan apa yang diharapkan, disebabkan ditutupnya seluruh jalan mendapatkan akses tersebut. Radikalisme akhirnya menjadi pilihan untuk melawan rezim yang berkuasa. Cara-cara kekerasan acap kali menjadi pilihan mereka. Ini yang disayangkan dari radikalisme. Di samping konflik elite yang akan meluas ke tingkat bawah, persoalan disintegrasi bangsa, sebenarnya problem kebangsaan kita tidak bisa dilepaskan dengan krisis ekonomi, krisis moralitas politik (etika politik) dan etika sosial yang sangat dalam telah menjangkiti bangsa ini. Akibat krisis moralitas politik, dan etika sosial maka antara satu anggota masyarakat dengan anggota masyarakat yang lain seakan-akan tidak ada lagi ikatan sosial yang mampu mengikat dalam satu keluarga besar yang bernama Indonesia. Antarsuku, antarwarga negara tidak segan-segan saling mencurigai, saling bermusuhan dan saling bunuh-bunuhan.

Apa yang terjadi selama era reformasi di negeri ini dengan banyaknya konflik kekerasan di beberapa daerah seperti Ambon, Maluku Utara, Sampit, Sambas, Pontianak dan Aceh merupakan bukti-bukti sulit untuk dibantah bahwa ikatan dan kohesi sosial bangsa ini telah mengalami krisis. Munculnya “konflik agama” di Indonesia tersebut sebagai dampak dari hiperpolitisasi agama sebagai instrumen kekuasaan rezim Orde Baru di masa lalu, yang masih terbawa hingga masa kini. Konflik di level struktur kekuasaan dapat dengan mudah dialihkan ke dalam medan konflik di dalam masyarakat dengan cara mengobarkan sentimen agama. Masyarakat yang mengalami fragmentasi sosial kehilangan daya tahannya untuk meredam konflik yang dimunculkannya. Dalam kaitan dengan hal tersebut negara mengalami kegagalan dalam memfasilitasi secara adil beragam kelompok keagamaan dengan multiwacana yang dimilikinya. Sebab negara tidak steril dari kepentingan subyektifnya, yang dalam banyak kasus justru mengambil keuntungan atas perbedaan ‘ideologi’ kelompok keagamaan.

Begitu pula lahirnya kelompok-kelompok keagamaan, terutama yang radikal dalam konteks yang lain juga sebagai respons dari kekecewaan terhadap peran negara yang “gagal” memayungi dan memberikan perlindungan terhadap warganya. Dengan demikian antara negara dan masyarakat keduanya seolah saling menopang tumbuhnya bibit-bibit radikalisme. Dalam arti negara gagal mengimplementasikan keadilan hukum sebagai upaya melindungi warganya, radikalisme keagamaan tidak lain sebagai upaya perlindungan diri akibat kegagalan negara tersebut. Meskipun sinyalemen ini masih menyimpan kedangkalan makna, karena sifat tafsirnya yang sektarian dan kurang mengedepankan kepentingan yang lebih umum, dan inklusif dalam menciptakan hubungan sosial kemasyarakatan.

Jalan terbaik yang perlu dikedepankan guna menghadapi keberagamaan yang radikal dan intoleran, yakni: Pertama, melakukan upaya pengkritisan terhadap tafsir keagamaan yang bersifat ekstrem dengan melihat kembali makna-makna substantif agama. Upaya untuk mendorong secara lebih lebar atau luas lagi debat publik tafsir agama dapat meminimalisasi adanya kontradiksi penafsiran atas suatu ayat atau teks agama. Cara ini pula dapat menyingkap kepentingan terselubung di balik tafsir yang lebih mengobarkan semangat permusuhan daripada jalinan persaudaraan.

Kedua, perlu menghidupkan kembali tradisi keagamaan yang lebih mengedepankan semangat antikekerasan, toleran sekali pun tetap disertai dengan sikap yang kritis.

Ketiga, negara harus dapat memainkan peran memfasilitasi, mediasi dan perlindungan hukum secara adil di dalam kehidupan sosial masyarakat. Sehingga kesadaran keagamaan dan ekspresi keberagamaan dapat memperkaya khazanah sosial dan ruang kreativitas, selain dapat menebarkan pesona keindahan, daripada aroma permusuhan dan kekerasan. Begitu pula negara, jangan pula menjadi bagian yang mendorong adanya politisasi agama melalui pengobaran simbol-simbol agama yang dapat memancing sentimen dan bangkitnya radikalisme keberagamaan. Tentu di dalam konteks ini negara dicerminkan oleh sikap dan perilaku apaturnya dari pusat hingga daerah.***

Save

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

My ART

#saveXpalaguna

gerakan seniman & warga Bandung untuk pemanfaatan ex lahan pertokoan Palaguna menjadi RTH dan Cagar Budaya

Follow TandaMata BDG on WordPress.com

My Instagram

Usai Pengajian di Percikan Iman - Mesjid Telkom University
#menggambar pake #telunjuk yang ketiga di HP ini masih jauh dari sempurna, tapi lumayan lah untuk melancarkan.
#art #drawing #sketch #sketchbook #sketchwalker #sketchurban #telkomuniversity #bandung Kalau sebelumnya "menggambar pake telunjuk" di HP karena tak bawa alat+media gambar, kali ini karena situasional.
Selalu ada saja saat-saat dimana "passion" menggambar lagi tinggi tapi situasi tidak memungkinkan. Di dalam pesawat terbang misalnya. 
Dalam situasi seperti ini "ngagambar ku curuk" jadi sangat masuk akal. Walau belum belajar tekniknya yg bener,, baru pake ilmu "kumaha aing we", menggambar dengan telunjuk mengasyikkan juga. Sepertinya ke depan akan saya jadikan alternatif (kaduhung teu ti baheula nyobaan na)
#art #drawing #sketchbook #sketch #sketchwalk #airplane #nam #surabaya Ngudud Dji Sam Soe segese gini kapan habisnya ya? 
#cigarette #234 #sampoerna #museum #houseofsampoerna #surabaya Hotel Geulis Dago Bandung
#art #drawing #painting #watercolor #drawingpen #urbansketch #hotel #dago #bandung #sketch #sketchwalker #hotelgeulisdago Kembali ke Khitah
Saat pulang ke Bandung  saya kangen nyeket di Bandung yg sejuk.  Alhamdulillah beberapa teman di Minggu tadi pada ngumpul di Car Free Day DAGO.  Jadi deh DIGODA DAGO
#art #drawing #sketch #sketchwalker #cfd #dago #bandung #seniman Utk pertamakalinya menggambar pake TELUNJUK

Terkadang (bahkan sering) yang dibutuhkan cuma ngopi alakadarnya. Cukup kopi seduh.
Di Bratang Jaya Surabaya ada sebuah warung kopi seduh. Tempatnya luas, 2 lantai lagi Buka 24 Jam. Harganya cuma 3000 perak. Menarik,, makanya penuh banget.
Saat ngopi nyesel juga nggak bawa Sketchbook. Cuma ingat ada aplikasi Autodesk Sketchbook di HP. Ini pertamakalinya menggambar pake telunjuk. Rada susah sih dan untuk hasil seperti ini rasanya kelamaan waktu yg dihabiskan, Tapi lumayanlah, dan asyik juga lah
#art #drawing #sketchbook  #sketch #sketchwalker #warkop #warungkopi #murah ' Gazeebo dekat Rektorat Kampus ITS
#art #drawing #watercolor #gazeebo #its #rektorat #sketch #sketchwalker Sambl menunggu anak herregistrasi di Kampus ITS Surabaya
#art #drawing #sketch #sketchwalker #Its #surabaya #herregistrasi Ngopi
#coffetofee #post #coffee #surabaya #myson Alih-alih merasa sendirian di Surabaya, eh ada orang Sekeloa alumnus  Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad  Angkatan 1990 tinggal disana dan putranya sama-sama diterima satu fakultas dgn  Elang. Setelah 22 tahun tak bertemu, Rainy Safitri Inge sepertinya tak banyak berubah. 
Terinakasih banyak atas jamuan makan siangnya, info tentang kost, kunjungan ke Museum Sampoerna dan bantuan kemudahan transportasi selama di Surabaya. Salam buat keluarga. Semoga segala kebaikan Inge & keluarga berbalas berkah berlimpah.
#its #surabaya #alumni #fikomunpad #culinary Tiba ....
#its #surabaya ##arsitektur Seneng rasanya lihat anak-anak kompak saling jaga saling bina #menuju_ITS #raihmimpi #arsitektur #its SIDAK ke Lapak Seniman CFD Dago, sepertinya formasi belum lengkap. Masih berlibur? 
#art #artist #painter #masters #cfd #dago #bandung Silaturahmi ke senior
#idulfitri #halalbihalal #maestro #painter #art #artist Kuda Liar tapi Soleh
#art #drawing #watercolor #spidol #horse #white #sketch #pray Beberes halaman belakang #menunggutukang #ngaduk #tembok #teras #halamanrumah #halamanbelakangrumah #kawalu #tasikmalaya Perang Gobang
#art #drawing #watercolor #spidol #game #traditional Sawer Receh
#lebaran #idulfitri #mudik #cicariang #kawalu #tasikmalaya Puntennya palawargi sadaya ditampina lesehan, maklum teu acan gaduh parabotan
#mudik #cicariang #kawalu #tasikmalaya #idulfitri #lebaran Selamat Hari Raya Idul Fitri. Kami sekeluarga Mohon Maaf atas segala kesalahan, terasa dan atau tidak sengaja.. Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadan diterima Allah SWT. Amin..
#idulfitri #lebaran

Pengunjung Blog

  • 53,519 hit

Pengunjung Online

%d blogger menyukai ini: