//
you're reading...
ARTIKEL

“Nyampah” Itu Dosa


Penulis   : Herry Dim – Seniman, Pemerhati Kebudayaan, Penulis

Sumber  : Pikiran Rakyat 17 April 2017

Untuk membaca dan mengunduh Klipping Klik Gambar lalu Zoom. (semoga bermanfaat)

TAHUN 1999 saya membuat karya “Puitika Sampah” yang melibatkan juga Bambang Subarnas, Dédén Sambas, Iman Soléh, Tony Broer, Ine Arini, Harry Roesli, Yuséf Muldyana dan Laskar Panggung, Héndra “Mboth” Permana, Nandang Gawé, dan beberapa anak jalanan di CCF (kini IFI, Institut Français d’Indonésie), Bandung. Risét fotografi, sosial, dan perkara sampah untuk karya tersebut dikerjakan bersama Harry Pochang di TPA Leuwigajah.

Berlandaskan kepada risét kecil-kecilan sebelumnya atau pun yang kemudian dilakukan untuk “Puitika Sampah,” sudah muncul semacam kesimpulan bahwa telah datang peradaban baru yang memang tak terhindarkan, seyogianya itu seiring berjalan bersama munculnya kesadaran baru atau kebudayaan baru. Jika luput, maka bukan mustahil Bandung dalam ancaman “darurat sampah.”

Selang enam tahun kemudian, 2005, terjadi longsor besar di TPA Leuwigajah yang merenggut korban antara 140 – 150 jiwa meninggal. Saat itu, saya dan besar kemungkinan semua kawan-kawan “Puitika Sampah” hanya bisa mengurut dada.

Demikian halnya ketika halaman muka Pikiran Rakyat, Kamis (13/4/2017), menyajikan foto antrean truk sampah di jalan menuju TPA Sarimukti dan dua berita utama yang berkenaan dengan sampah. Ingatan bersama kita sontak terbangkitkan kembali: sampah merupakan persoalan besar. Seperti diberitakan “PR”, disebabkan rusaknya alat timbang di TPA maka menyebabkan timbulnya rangkaian masalah hingga kerugian yang besarannya ratusan juta rupiah. Berita lain di halaman yang sama mengungkap utang-piutang miliaran rupiah sehubungan perkara sampah dari Pasar Induk Caringin.

Tulisan ini tak bermaksud ikut membahas masalah di TPA Sarimukti apalagi berkenaan hal teknis kerusakan alat timbang yang memang di luar kemampuan penulis, melainkan ingin melihat kembali ihwal sampah yang sesungguhnya berada di dalam lingkaran besar peradaban dan kebudayaan.

Antrean truk sampah di TPA Sarimukti dan peristiwa TPA Leuwigajah yang bahkan merenggut korban ratusan jiwa, itu sesungguhnya merupakan pucuk gunung es, mengingat masih terdapat persoalan-persoalan lain seputaran sampah yang jauh lebih besar, dan bisa menelan korban serta permasalahan yang lebih besar lagi jika tak teratasi lebih dini. Di dalam gunungan persoalan tersebut antara lain terdapat perkara bawaan dari geseran kebudayaan rural ke urban, populasi perndudukan dan produksi sampah di perkotaan, ketaksiapan (pemerintah serta masyarakatnya) di dalam perubahan peradaban dan kebudayaan baru, tidak/belum terhubungnya dunia pendidikan bahkan agama mayoritas terhadap persoalan-persoalan baru, hingga (salah satu ujungnya) ketimbang melahirkan adab dan kebudayaan baru malah melahirkan manusia-manusia “semau gue”. Manusi yang tidak/kurang memiliki daya toléransi, mementingkan diri sendiri atau kelompoknya dan tidak/kurang peduli terhadap orang lain atau pun kelompok lain, juga kecenderungan skeptis yang antara lain disebabkan kian merosotnya kepercayaan publik terhadap pemerintah (eksekutif, législatif, dan yudikatif) yang berulang-ulang mencederai rakyatnya.

Itu sekadar gambaran seringkas-ringkasnya, bahwa seurusan sampah pun sejatinya saling kait-berkait dengan aspék-aspék kehidupan lainnya. Ia yang asal-muasalnya bisa saja dari perkara pribadi bahkan perkara seringan melempar plastik bekas pembungkus, nyatanya berkait dengan keberadaan dan kehidupan orang lain, berjalin dengan masyarakat sekitar bahkan berkenaan dengan kehidupan yang jauh. Contohnya iring-iringan truk sampah di kawasan TPA Sarimukti dan korban di TPA Leuwigajah, itu pasti berasal dari tempat-tempat yang jaraknya puluhan kilometer bahkan berasal dari buangan seluas Kota Bandung dan sekitarnya. Demikian untuk menyebutkan bahwa selemparan sampah dari sejumput plastik, itu berkenaan dengan pola kepribadian orang per orang, selanjutnya berada di dalam lingkaran tatanan sosial, tatanan peradaban, dan tatanan kebudayaan.

 

Daun ke plastik

Di atas telah disinggung ihwal terjadinya geseran kebudayaan rural ke urban, sayangnya dalam proses tersebut umumnya terjadi dua hal yang relatif tak wajar. Hal pertama kecenderungan tak berlanjut bahkan hilangnya kearifan masa lalu, baik karena tergantikan oleh peradaban baru atau pun karena tidak adanya tradisi/sistem keilmuan pewarisan dan keberlanjutan budaya. Kedua, berupa kecenderungan datangnya peradaban baru yang selalu tiba-tiba sehingga dalam berbagai hal tidak mengalami prosés kebudayaan kecuali langsung terhubung kepada hal-hal fungsional.

Agar tidak menjadi uraian teoritik dan berkepanjangan, ihwal dua hal di atas antara lain bisa kita lihat pada geseran budaya penggunaan material keseharian, perlakuan, hingga penyelesaian akhirnya dalam wujud sampah. Ini pun kita tentukan salasatu contoh saja yaitu berupa budaya yang hubungannya dengan pembungkus atau kemasan penganan.

Hampir seluruh kearifan lokal nusantara yang kelak menjadi Indonesia, itu memiliki tradisi membungkus makanan dengan bahan organik yang umumnya berupa dedaunan. Sebut misalnya lemper dan nasi timbel berbungkus daun pisang, sega/nasi jamblang – daun jati, wajit – kulit jagung, ketupat – daun kelapa, bubur sagu – daun mangkokan, tapé – daun jambu, dan sebagainya. Semua bahan pembungkus tersebut tergolong organik, tumbuh/hidup di tengah tradisi ketika lahan tanah masih luas terbuka dan belum beraspal atau beton, maka manakala bekas pembungkus tersebut (katakanlah) dibuang sembarangan pun segera mengalami pelapukan dan secara alamiah menjadi kompos.

Kini, baik penganan-penganan tersebut di atas dan/atau umumnya model penganan baru itu berbungkus aluminium foil, kertas lilin (kertas berlapis sejenis plastik), styrofoam, dan aneka ragam plastik murni. Itu semua tergolong tak organik, tak bisa berproses secara alamiah, butuh waktu panjang bahkan cenderung tidak bisa kembali menjadi organik. Barang-barang tak organik tersebut sangat umum digunakan di tengah kehidupan urban, bahkan lambat laun merembes pula ke pedesaan.

 

Dosa

Seolah sepele, mungkin hanya terlihat sebagai peralihan dari penggunaan daun ke plastik, dan terasa seringan melempar sampah “keresek” (istilah untuk jenis kantong plastik). Tapi nyatanya, selemparan “keresek” tersebut jika terakumulasi bisa menjadi sampah puluhan ton dan menimbulkan bencana yang bahkan merenggut jiwa.

Ini demi menyatakan bahwa dari peradaban rural yang menggunakan dedaunan itu perlu pranata baru berupa kebudayaan urban. Jika dahulu melempar sampah daun itu tak menjadi perkara, maka kini selemparan “keresek” yang sembarangan niscaya menjadi bencana bagi orang lain. Karena nyampah atau buang sampah sembarangan itu mencelakan orang lain semisal menjadi banjir di mana-mana, bukankah itu berarti perbuatan dosa?

Sayangnya karena masyarakat skeptis sudah telanjur bertumbuhan, maka kesadaran “dosa” ini pun sirna dalam keriuhan.***

Save

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

My ART

#saveXpalaguna

gerakan seniman & warga Bandung untuk pemanfaatan ex lahan pertokoan Palaguna menjadi RTH dan Cagar Budaya

Follow TandaMata BDG on WordPress.com

My Instagram

Terjadi error saat mengambil gambar dari Instagram. Upaya akan diulangi beberapa menit lagi.

Pengunjung Blog

  • 62,568 hit

Pengunjung Online

%d blogger menyukai ini: