//
you're reading...
ARTIKEL

Miskomunikasi Orang Arab


Penulis   : Deddy Mulyana – Guru Besar Fikom Unpad, Anggota Dewan Redaksi PR

Sumber  : Pikiran Rakyat 6 Maret 2017

Untuk membaca dan mengunduh Klipping Klik Gambar lalu Zooom. (semoga bermanfaat)

11703061

KEHADIRAN Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dan rombongannya dari Arab Saudi di Indonesia selama sembilan hari (1-9 Maret 2017) mengingatkan saya akan sejumlah narasi tentang miskomunikasi orang Arab. Seorang penceramah agama di Melbourne, Australia, pernah menyampaikan cerita nyata: Di sebuah kota di Malaysia, beberapa pendatang Arab yang tak bisa berbahasa Melayu bermaksud membeli bensin untuk mobil yang mereka kendarai. Seorang dari mereka mengutarakan maksudnya dalam bahasa Arab, namun dijawab oleh pegawai pom bensin dalam bahasa Melayu, karena ia tak bisa berbahasa Arab bahwa bensinnya telah habis terjual. Namun, orang Arab tak mengerti jawaban orang Malaysia itu. Ia ngotot ingin membeli bensin. Menyadari ada kemacetan komunikasi, sang pegawai mencari akal. Akhirnya ia mengucapkan, ”Sadaqallahul azim.” Orang Arab itu akhirnya mengerti. Ia pun tertawa.

Lain lagi cerita seorang mahasiswa saya di Fikom Unpad: “Kejadian ini dialami orangtua teman saya waktu menunaikan ibadah haji. Saat berjalan-jalan mereka melihat bus yang menunggu penumpang. Mereka sudah lelah dan ingin kembali ke kemah. Mereka memutuskan untuk naik bus tersebut. Ketika menginjakkan kaki di tangga bus, tiba-tiba sopirnya berteriak, ‘Haram, Haram, Haram!’ Mereka kaget, mengira bahwa mereka tidak boleh naik. Ya, namanya juga sedang naik haji, pasti akan selalu waspada terhadap yang haram-haram. Akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan kaki sampai ke kemah. Sampai di kemah, dengan napas yang masih terengah-engah setelah berjalan belasan kilometer, si ibu menceritakan pengalamannya kepada temannya yang sudah naik haji berkali-kali. Temannya menjelaskan, ’Haram itu berarti ke Masjidilharam,’ bukan tidak boleh naik.”

Jika orang Indonesia di tanah Arab bisa salah paham tentang apa yang haram, orang Arab di Indonesia pun bisa demikian. Suatu anekdot melukiskan: Suatu hari, dalam perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandung, seorang pria Arab meminta sopir untuk melewati wilayah Puncak. Saat melihat rambu lalu lintas yang menggambarkan dua gunung yang berdekatan (di depan yang akan dilewati pengendara), orang Arab itu kaget. Serta-merta ia berteriak, “Haram! Haram! Haram!” Rambu lalu lintas itu rupanya mengingatkan pria Arab itu akan bagian sensitif tubuh wanita.

**

KESALAHPAHAMAN bisa terjadi pada siapa pun yang berkomunikasi dengan orang Arab, bukan hanya secara verbal namun juga secara nonverbal. Jika Anda sebagai pria datang ke Arab Saudi untuk pertama kali dan berbelanja di toko, jangan kaget jika pria Arab itu memeluk Anda, atau mengusap dagu Anda, apalagi jika Anda berjenggot. Bukan karena ia gay, melainkan karena menyukai atau menghormati Anda atau sedang membujuk Anda untuk membeli barang yang ia tawarkan. Mengusap dagu seorang pria juga dilakukan untuk meredakan marah pria tersebut. Saat di Tanah Suci dulu, saat saya menawar kerudung di sebuah toko, dagu saya diusap pedagang. Saya balik mengusap dagunya agar harga kerudung diturunkan. Ia pun mengabulkan tawaran saya.

Meski tak masalah mengusap dagu orang Arab yang baru Anda kenal, apalagi kawan Anda, jangan coba-coba Anda melakukannya terhadap seorang ustaz, kiai, ulama, atau orang biasa sekalipun di negeri kita, kecuali jika Anda siap kena semprotannya.

Seorang mahasiswa saya yang lain menceritakan kesalahpahaman soal dagu ini: “Saat libur panjang sekolah, saya dan keluarga berlibur di Puncak. Kami menginap di hotel berbintang yang dipenuhi pengunjung, termasuk turis asing dari berbagai negara. Ketika berada di depan front office, kami melihat seorang turis yang mungkin dari Timur Tengah. Itu terlihat dari caranya berpakaian dengan mengenakan sorban di kepalanya. Turis Arab itu menghampiri turis lokal, mungkin teman atau rekan kerjanya. Usai berjabatan tangan dan berpelukan, tiba-tiba turis asing itu mencolek dagu temannya yang orang lokal. Serta-merta orang Indonesia itu mencak-mencak: ‘Kamu pikir saya ini apa! Pegang-pegang. Baru kenal kamu sudah nggak sopan.’ Menggunakan bahasa sendiri, turis Timur Tengah itu juga marah-marah. Manajer hotel datang melerai. Ia menjelaskan kepada orang Indonesia itu bahwa kebiasaan mencolek dagu ketika bertemu dengan teman lama adalah penghargaan yang tinggi bagi orang Arab. Orang Indonesia itu meminta maaf. Akhirnya mereka bersalaman kembali. Turis Timur Tengah itu mencolek dagu temannya sekali lagi, tetapi kini sambil tertawa-tawa.”

Orang-orang Arab sesama jenis lazim berdekatan. Di kalangan pria Arab, membaui tubuh orang Arab dan merasakan sapuan napasnya adalah hal menyenangkan. Pada zaman dulu bahkan suatu keluarga mengirim utusan untuk membaui badan calon menantunya untuk mengetahui apakah calon menantunya itu prospektif atau tidak. Pria Arab bahkan mencium pipi kawan akrabnya dengan bibirnya saat bertemu. Kecupannya itu terdengar cukup keras, suatu hal yang dianggap “jijay” oleh orang Barat, juga oleh orang Indonesia. Maka di Jerman pernah seorang pria Arab mengingatkan kawannya yang akan turun dari kereta dan akan ia jemput di stasiun untuk tidak melakukan sapaan seperti itu guna menghindari tatapan ganjil orang-orang Jerman di sekitar mereka.

Di Arab Saudi, menyentuh kepala orang lain dianggap sopan. Di Masjidilharam atau Masjid Nabawi, tak jarang orang Arab menyentuh kepala orang yang dilewatinya dan melangkahi bahunya saat masjid penuh dengan jemaah yang duduk. Sentuhan kepala itu bisa diartikan minta izin. Terpenting, jangan sekali-kali menyentuh pantat pria Arab, karena itu pelanggaran serius. Sering kita menganggap orang Arab itu kasar karena suara mereka yang keras. Dalam budaya Arab, suara keras bukan tanda kekasaran, melainkan tanda kasih sayang dan ketulusan. Semakin orang Arab menyukai Anda, semakin keras suaranya.

Orang Arab sering distereotipkan sebagai penggemar wanita, terutama di Barat. Stereotip ini, misalnya, muncul dalam buku Bradford Hall (2002) lewat guyonan berikut: Dalam suatu diskusi ada pertanyaan, “Siapa yang harus Anda tolong dalam musibah kapal yang tenggelam, seandainya Anda punya tempat hanya untuk satu orang lagi dalam rakit Anda, apakah ibu Anda atau istri Anda?” Dua peserta diskusi, satu pria Arab dan satu pria Inggris, berbeda pendapat. Pria Arab memilih ibunya dan pria Inggris memilih istrinya. Pria Inggris berujar, “Istri harus dipilih karena meski Anda mencintai ibu Anda, ibu Anda telah memperoleh kehidupan yang penuh, tetapi istri Anda adalah teman hidup terpilih selama hidup Anda.” Sementara alasan pria Arab memilih ibunya adalah: “Anda dapat selalu memperoleh istri yang baru, tetapi Anda hanya memiliki satu ibu.”

Stereotip memang sering berlebihan, bahkan salah kaprah. Bukankah stereotip yang dianut Barat bahwa Muslim itu teroris atau stereotip yang dianut suku non-Sunda bahwa perempuan Sunda itu materialistis dan tak setia itu juga salah kaprah?

Kembali ke kedatangan Raja Salman di Indonesia yang menawarkan investasi kerja sama senilai lebih dari Rp 300 triliun, semoga tak ada miskomunikasi antara Raja Arab dan Presiden Jokowi serta jajarannya.***

Save

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

My ART

#saveXpalaguna

gerakan seniman & warga Bandung untuk pemanfaatan ex lahan pertokoan Palaguna menjadi RTH dan Cagar Budaya

Follow TandaMata BDG on WordPress.com

My Instagram

Terjadi error saat mengambil gambar dari Instagram. Upaya akan diulangi beberapa menit lagi.

Pengunjung Blog

  • 64,647 hit

Pengunjung Online

%d blogger menyukai ini: