//
you're reading...
ARTIKEL, Tak Berkategori

Membuka Pagar Taman Publik


Penulis   : Teddy K Wirakusumah – Dosen Prodi Manajemen Komunikasi Fikom Unpad, Pemerhati Masalah lLngkungan dan Perkotaan

Sumber  : Pikiran Rakyat 27 Oktober 2012

Untuk membaca dan mengunduhnya Klik Gambar lalu Zoom. (semoga bermanfaat)

Teddy K Wirakusumah PR-2012-1

Kota, adalah sebuah predikat bagi sebuah tempat dengan tingkat kepadatan manusia penghuninya dalam batasan jumlah tertentu. Implikasi logis dari tingkat kepadatan serupa itu berimbas pada padatnya permukiman dan beranekaragamnya jenis hunian tempat para manusia kota tinggal, bekerja dan beristirahat. Ketika luas wilayah tempat tinggal makin sulit didapat maka hunian tumbuh meningkat ke atas. Gedung-gedung kian menjulang berlomba menggapai langit. Batang-batang pohon bertukar dengan kolom bertulang beton. Masalah baru muncul; keseimbangan ekologis terganggu.

Isu lingkungan menjadi topik khas dalam perbincangan perkotaan. Upaya penghijauan menjadi gerakan yang mewabah di kota-kota besar. Jumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH) menjadi indikator keberhasilan pembangunan kota yang berwawasan lingkungan.

Dalam prakteknya RTH di perkotaan hadir dalam bentuk taman-taman kota. Kehadiran taman kota diharapkan dapat berfungsi sebagai paru-paru kota, peredam polusi suara, penyaring debu, pengatur suhu dan kelembaban udara, pelestari ekosistem, dan pencegah erosi. Kehadiran taman diharapkan pula bisa menjadi penyeimbang natural di tengah belantara artificial yang bisa menjadi tempat rehat yang menyejukkan hati, memberikan kenyamanan saat mata memandang, menjernihkan pikiran dan menawarkan perasaan tenteram. Selain itu, kehadiran taman kota diharapkan pula bisa jadi ajang pertemuan warga, sarana pelepasan sebagai makluk sosial setelah dalam keseharian terjebak dalam rutinitas individual.

Jika semua fungsi tersebut dapat di-amin-i sulit dipungkiri, kehadiran taman sebagai RTH memberi kontribusi penting bagi manusia kota, jasmani serta rohaninya, ragawi, indrawi serta spiritual ke-makhluk-annya. Singkatnya, taman kota adalah ruang publik yang menawarkan kesehatan dan kenyamanan bagi manusia kota berikut kemanusiaannya

Namun, betapapun RTH di kota Bandung sudah tersedia dan pemahaman akan kontribusi pentingnya sudah disepakati ternyata bukan jaminan bahwa akses menuju ruang publik yang sehat dan nyaman serba terbuka dan mudah bagi warga kota. Bagaimana tidak? Langkah menuju taman kota terkendala pagar yang sengaja dipasang mengitari taman.

Pagar adalah penghalang, penghambat, pembatas, atau perintang. Membuat pagar pada suatu tempat atau ruang identik dengan upaya sengaja menghalangi orang bisa hadir ke tempat tersebut karena alasan-alasan tertentu. Membuat pagar di ruang publik seperti taman kota, pilihan ini jadi terasa ganjil. Di satu pihak – salah satu fungsi – taman kota diarahkan menjadi ruang publik agar warga kota saling berinteraksi, namun di lain pihak pemasangan pagar yang tertutup rapat jelas-jelas memberi pesan non-verbal yang berujar “dilarang masuk”. Banyak taman di Kota Bandung mencerminkan kondisi serupa itu. Taman kota sengaja dibuat berjarak dengan warga kota. Kehadiran taman kota menjadi sekadar barang pajangan atau hiasan. Tak lebih tak kurang.

Pernah terdengar alasan bahwa pemagaran taman kota dimaksudkan untuk melindungi keamanan dan kelestarian taman kota. Tumbuh semacam kecurigaan bahwa warga kota bertangan jahil, tak peduli dengan keindahan kotanya sendiri. Benarkah? Sepertinya pandangan serupa ini teramat sinis dan patut diuji. Menurut penulis, kehadiran pagar justru tidak mendidik warga untuk turut menjaga agar taman kota lestari. Tidak mengajak warga untuk turut serta bertanggung jawab. Membangun pagar di taman kota artinya menolak warga untuk ikut berpartisipasi. Tidak diajak serta untuk merasa ikut memiliki. Kesadaran warga dibiarkan rendah. Urusan taman kota urusan penguasa. Kalau warga ingin berpartipasi urus saja halaman tumah sendiri. Kalau halaman tak punya tanam saja di pot bunga.

Masalahnya, ketika tata kelola taman lebih terpusat pada penguasa, urusan pelestarian taman erat terkait dengan anggaran. Tatkala anggaran tersedia, taman sedap dipandang, bahkan bisa disulap menjadi taman bunga bermekaran. Saat anggaran tiada taman pun kerontang. Ceritanya bisa berbeda jika sejak awal warga kota diajak terlibat serta.

Pernah juga terdengar alasan bahwa taman tanpa pagar menjadi surga bagi tunawisma, pangkalan bagi pedagang asong dan pedagang kaki lima. Pandangan serupa ini boleh jadi ada benarnya. Tapi, menurut penulis, sesungguhanya ini masalah kesungguhan manajemen pengelolaan, pengawasan dan penertiban.

Tatkala diperoleh kenyataan bahwa ternyata ada tunawisma yang menggunakan taman terbuka dijadikan tempat tinggal, terlalu sulitkah untuk melihatnya dengan cara pandang positif. Bukankah ini berarti pengelola kota dipermudah mendapatkan fakta bahwa masih ada warganya yang tak berumah tinggal. Mensejahterakan seluruh masyarakat yang dipimpinnya adalah amanah. Undang dan ajaklah bicara. Berikanlah kesempatan bagi para tunawisma tersebut untuk memperbaiki hidupnya. Ajak dan libatkanlah mereka dalam mekanisme pengelolaan dan pemeliharaan taman kota. Mungkin bisa dimulai dari pemberian tugas-tugas sederhana seperti penyapuan dan penyiraman. Berikutnya mungkin bisa dikembangkan untuk mendapatkan tugas pemeliharaan dan pengawasan. Atau boleh jadi diarahkan untuk mendapatkan tugas pembibitan, penyemaian dan penjualan tanaman hias.

Demikian halnya dengan para pedagang asong dan PKL. Sangatlah tidak bijak tatkala ada warga yang punya semangat untuk memperjuangkan hidup upayanya dinihilkan lewat cara-cara yang represif. Mungkin benar, kehadirannya kerap terkesan membuat kumuh. Membuat lingkungan tidak sedap dipandang. Namun, tindakan pengusiran sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Tindakan pengusiran hanya memindahkan masalah di suatu tempat ke tempat lain. Yang lebih parah lagi jika tindakan represif ini mengarah pada perburuan dan perampasan. Ini keterlaluan. Bukankah keberadaan mereka seperti itu karena buah dari ketidakmampuan pengelola kota untuk menyediakan pekerjaan yang layak bagi warganya. Sudah untung mereka tidak menuntut haknya. Keterbatasannya harusnya menjadi sumber ilham merancang gagasan pemecahan jalan keluar. Semangat kerja mereka punya. Kemampuan berwirausaha – sesederhana apapun – terbukti mereka miliki. Yang dibutuhkan adalah kearifan untuk memilih alternatif relokasi disertai upaya-upaya peningkatan kemampuan menuju arah yang melegakan keduabelah pihak.

Penulis adalah staf pengajar Fikom Unpad,

pemerhati masalah lingkungan dan perkotaan

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

My ART

#saveXpalaguna

gerakan seniman & warga Bandung untuk pemanfaatan ex lahan pertokoan Palaguna menjadi RTH dan Cagar Budaya

Follow TandaMata BDG on WordPress.com

My Instagram

Terjadi error saat mengambil gambar dari Instagram. Upaya akan diulangi beberapa menit lagi.

Pengunjung Blog

  • 64,647 hit

Pengunjung Online

%d blogger menyukai ini: